Kisah Ar Rayah di Aksi Damai 212


Kalimat tauhid bergerak diiringi seruan tahlil. Entah berapa juta umat Islam yang dilaluinya, dan entah berapa ribu takbir yang menyertainya. Tidak hanya terbentang pada 212, kalimat tauhid putih pada selembar kain hitam itu pun sempat menghiasi halaman satu sejumlah media cetak dan menjadi breaking news pada beberapa media elektronik.
Padahal, bendera itulah yang pernah dilupakan, bahkan ditakuti oleh sebagian Umat Islam. Kini, bendera itu telah kembali ke pelukan mereka, dimuliakan, dan diagungkan. Bendera yang awalnya identik dengan bendera Islam garis keras, bahkan benderanya teroris, menjadi bendera paling agung yang menyertai Aksi Bela Islam III, Aksi Super Damai 212, Jumat 2 Desember 2016 lalu.
“Ini adalah panji Rasulullah saw, tertulis dalam beberapa hadits, berwarna hitam, bertuliskan Laa Ilaa Ha Ilallah Muhammadur Rasulullah. Ini adalah panji Kaum Muslimin, panji persatuan Kaum Muslimin, panji kebangkitan Kaum Muslimin, panji yang menguatkan perjuangan kita. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,” ujar Muhammad Gustar Umam berkali-kali menggunakan pengeras suara, sambil mengiringi Ar Rayah berukuran 10,5 m x 15 m yang tengah diestafetkan.
Sebelum menjaga Ar Rayah, Umam telah berjalan kaki sejak dini hari dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah hingga sekitar Halte Bank Indonesia (BI). Jarak keduanya sekitar 17 km. Tiba di Halte BI, Umam beristirahat sekitar 15 menit dan kembali berjalan untuk mengiringi Ar Rayah, mulai dari Halte BI hingga beberapa ratus meter menjelang Monumen Nasional (Monas).
“Sayang, akhirnya saya tidak mampu mengantarkan Ar Rayah hingga mendekati Monas, mungkin hanya beberapa ratus meter menjelang Monas, di tengah-tengah antara Pintu Gerbang Monas dan Monas,” tutur Umam.
Sebelum akhirnya Ar Rayah “menyapa” Barisan Polisi Asmaul Husna, Umam Sang Penjaga Ar Rayah terjatuh karena cedera di kedua kakinya. Awalnya, cedera dan rasa sakit yang hebat dirasakannya pada kaki kanan, sehingga dia berjalan tertatih. Setelah beberapa puluh meter berjalan tertatih, giliran kaki kirinya yang mengalami cedera, hingga akhirnya Umam tersungkur dan tidak mampu lagi berdiri. Akhirnya, dalam posisi terjatuh, Umam tidak berhenti menyeru dan bertakbir, agar Ar Rayah terus diestafetkan hingga ke Monas.
“Setelah menyerukan agar Ar Rayah terus diestafetkan, saya ditolong oleh banyak orang, saya dipijat dan diobati, lalu ditandu menuju pos medis karena tidak dapat berdiri dan berjalan. Ketika ditolong oleh beberapa orang itu, saya melihat Ar Rayah perlahan menghilang dari pandangan saya. Saya hanya berharap, Ar Rayah dapat diteruskan hingga ke Monas,” ujarnya.
Pada dua hari sebelumnya, Koordinator The Ar Rayah and Al Liwa Team (The AA Team), Zain Al Abidin mengungkapkan, beberapa mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah dan Universitas Muhammadiyah Jakarta yang juga anggota Lembaga Kaligrafi Indonesia (Lemka), Asosiasi Kaligrafer Darussalam (Aklam), dan Komunitas Muralmen menawarkan diri untuk “berbuat sesuatu” bagi 212, yakni membuat Ar Rayah berukuran besar.
“Kami tidak dapat mengikuti 212, absen kami sudah tidak memungkinkan, kami mesti kuliah atau tidak lulus sama sekali. Apa yang dapat kami berikan untuk 212 nanti?” ujar Zain menirukan suara mereka.
Panjang cerita, akhirnya dibentuklah The AA Team yang terdiri dari 16 orang. Misinya, yakni membentangkan Ar Rayah raksasa, membagikan Ar Rayah dan Al Liwa (kalimat tauhid hitam dengan bendera kain putih) berukuran kecil, dan memberikan sosialisasi mengenai Ar Rayah dan Al Liwa pada peserta 212.
Tidak tebersit dalam benak tim, hingga Ar Rayah raksasa bisa diestafetkan oleh jutaan tangan Umat Islam. Apalagi, Ar Rayah bisa tiba di Monas dan menjadi ilustrasi halaman satu di sejumlah media cetak. Bukan hanya foto, bahkan Ar Rayah juga menjadi breaking news dan perbincangan di sejumlah media elektronik.
“Apa yang terjadi terhadap Ar Rayah raksasa dan apa yang dapat dilihat masyarakat di media cetak dan media elektronik, semuanya hanya karena adanya pertolongan Allah semata. Tidak ada peran kami dalam hal itu melainkan sangat kecil sekali, semuanya karena Allah,” kata Zain.
Menurut Zain, tim awalnya ingin membawa Ar Rayah raksasa lalu membentangkannya di Monas. Namun, sekitar pukul 9.00 WIB, massa sudah sangat banyak dan kami tertahan di sekitar Halte BI. Akhirnya, di lokasi tersebut, tim membentangkan Ar Rayah raksasa sambil membagi-bagikan Ar Rayah dan Al Liwa yang berukuran lebih kecil.
“Ketika dibentangkan, kami pun memberikan sosialisasi pada peserta 212, mengenai apa itu Ar Rayah dan apa itu Al Liwa. Hingga akhirnya, beberapa di antara peserta bertakbir dan menyerukan agar Ar Rayah raksasa diestafetkan saja hingga Monas. Kami pun setuju. Pada saat itu, Muhammad Gustar Umam yang kebetulan memegang pengeras suara, berinisiatif menembus kerumunan massa karena ingin menjaga Ar Rayah agar bisa sampai hingga Monas,” ujar Zain.
Ia menuturkan, tim dokumentasi yang awalnya bersiap untuk mengabadikan Ar Rayah raksasa menggunakan quadcopter (drone) dan kamera, tiba-tiba saja mengalami kendala. Tim dokumentasi tidak dapat memiliki gambar dan video yang memuaskan, karena drone tidak dapat dioperasikan. Fotografer tim juga tidak mendapatkan gambar bagus, karena sulit menembus kerumunan massa.
“Akhirnya, yang tersisa dari segala yang telah kami rencanakan, dan apa yang sudah kami upayakan, adalah pertolongan Allah. Doa kami pada saat itu, semoga ada, mungkin satu atau dua orang yang mengabadikan Ar Rayah raksasa tersebut. Harapan kami pada saat itu, semoga ada, segelintir orang yang mau mengestafetkan Ar Rayah raksasa hingga ke Monas,” ujar Zain.
Allah pun menjawab doa Zain dan rekan-rekannya. Bukan hanya segelintir, tapi jutaan orang mengusung panji itu. Dan saat ini, entah berapa ratus juta pasang mata yang sudah menyaksikan berkibarnya panji tersebut melalui koran, televisi, internet, dan media sosial, baik itu lokal, nasional, maupun internasional.
“Yang pasti, kami meyakini semuanya terjadi karena pertolongan Allah. Di saat kami hanya mampu berdoa dan berharap, di saat kami menganggap semuanya telah selesai, pada saat itulah Allah membuktikan kebesarannya. Mudah bagi Allah untuk mewujudkan, sesuatu yang dianggap sulit atau mustahil oleh manusia,” kata Zain.
Sejak awal, tim yang memiliki anggota 16 orang itu memang fokus pada sosialisasi Ar Rayah dan Al Liwa. Mereka membagikan puluhan Ar Rayah dan Al Liwa kepada masyarakat secara acak.
“Kami terharu ketika ada salah satu masyarakat yang sedang jogging tiba-tiba meminta Ar Rayah kepada kami. Selanjutnya, ia langsung meneruskan joggingnya sambil mengibarkan tinggi-tinggi Ar Rayah tersebut,” kata Zain.
Menurut dia, Ar Rayah raksasa dibuat mulai Rabu sore dan tuntas pada Jumat pukul 3.00 WIB. Rencananya, Ar Rayah raksasa akan dibawa berjalan kaki dari UIN Syarif Hidayatullah hingga Monas. Akan tetapi, karena Ar Rayah raksasa itu catnya belum kering, maka diputuskan Divisi Long March berangkat lebih dahulu, sementara Ar Rayah akan dijemur dan selanjutnya dibawa menggunakan kendaraan ketika sudah kering.
Umam, salah satu anggota Divisi Long March, tiba bersama sekitar 150 orang lainnya di Halte BI. Setelah sekitar 15 menit beristirahat, Ar Rayah raksasa itu pun tiba diantar menggunakan kendaraan.
“Awalnya peserta Long March hanya terdiri dari 50 orang. Akan tetapi, selama perjalanan banyak yang bergabung bersama kami dan akhirnya ketika tiba di Halte BI, jumlah kami menjadi sekitar 3 kali lipat,” ujarnya.
Umam, Sang Penjaga Ar Rayah, terpaksa melakukan Sholat Jumat sambil duduk di salah satu pos medis. Ia bahkan sedikit menyayangkan, tidak dapat ikut merasakan nikmatnya air hujan ketika Sholat Jumat dilaksanakan. Sebelum Sholat Jumat, petugas medis menyampaikan pada Umam, kakinya jangan sampai basah dan kedinginan, karena hanya akan memperparah cederanya. Maka, Umam pun mengangguk, mengikuti anjuran petugas medis tersebut.
“Kami mendengar kabar menjelang sore hari, perihal apa yang terjadi pada Ar Rayah dari televisi dan media online. Ternyata Ar Rayah diestafetkan dengan tertib dan berkibar hingga Monas. Hal itu sangat membuat kami gembira dan terharu. Kami juga sudah mengikhlaskan, bila kami mesti berpisah dan tidak berjumpa kembali dengan panji raksasa tersebut,” kata Umam.
Mereka pun tetap pada perkiraan bahwa panji itu telah “tiada” hingga kabar gembira itu tiba pada sore hari. Kabar bahwa Ar Rayah telah tersimpan dan terjaga dengan rapi, diamankan di daerah Koja. Maka, sebagian The AA Team pun segera menjemputnya dan mengamankan bendera tersebut.
“Insya Allah, bendera ini akan kami jaga, hingga tiba saatnya hari kemenangan bagi seluruh Umat Islam di dunia,” ujar Zain.
Oleh: Tachta Rizqi Yuandri

0 Response to "Kisah Ar Rayah di Aksi Damai 212"

Posting Komentar